Senin, 12 Maret 2012

LEMBAGA DAKWAH DAN SEKUMPULAN CAHAYA


                Menjadi sebuah keunikan tersendiri ketika memahami secara harfiah terkait makna lembaga dakwah kampus tempat di mana para pejuang dakwah bernaung. Jika direnungi lebih dalam, ia bersifat anomali tak seperti lembaga-lembaga lain yang sering ditemui. Ketika banyak orang mengatakan bahwa manusia mengejar pemenuhan kebutuhan dunia di dalam setiap jenak motivasi kerja yang dimiliki, para pejuang dakwah justru dituntut untuk mengorbankan dunia dan menjadikan sesuatu yang bersifat abstrak dihadapannya menjadi satu-satunya motivasi. Abstrak dalam arti belum tentu mendapatkan balasan yang instan di dunia seperti halnya kerja-kerja lainnya yang berorientasi pada dunia. 

                  Maka ketika yang lain begitu cenderung untuk mengharapkan upah dan balas jasa yang setimpal dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, maka pejuang lembaga dakwah hanya mengenal sebuah kata yang sarat makna bernama ikhlas. Peluh yang dihasilkan dari kerja-kerja dakwah yang mereka lakukan tidak lagi menjadi butiran-butiran keringat yang membuahkan uang dan harta, melainkan menjadi saksi kesungguhan yang mereka suguhkan untuk Allah, sebagai orientasi sekaligus obsesi mereka. 

               Dakwah Islam merupakan sebuah upaya melakukan perubahan perbaikan umat dan keselamatan masyarakat serta kemajuan sebuah negara menuju terciptanya peradaban yang mengaplikasikan nilai-nilai Islam di setiap sisi kehidupan masyarakat di dalamnya. Maka lembaga dakwah yang berada di lingkungan kampus memiliki sebuah tanggungjawab menyiapkan masyarakat kampus yang dinaunginya menuju sebuah cita-cita dakwah tersebut. Memurnikan akidah, membersihkannya dari syirik, penyembahan terhadap thaghut, menayadarikan mahasiswa dari kemaksiatan dan segala hal yang dilarang oleh Allah, meluruskan tindakan dan akhlak, menyebarkan nilai-nilai kebaikan di setiap sudut kampus, dan satu hal lagi yang teramat penting yaitu menyebarkan optimisme bahwa umat Islam ditakdirkan untuk memimpin peradaban, sehingga kitalah yang harus siap-siap untuk menjemput kemenangan yang telah dijanjikan oleh Allah.

Bertumbuh dan berkembang adalah sebuah fitrah kehidupan. Begitu pun dengan dakwah kampus, kita ingin melebarkan sayap agar memungkinkan dapat menjangkau setiap orang, melakukan ekspansi kepada mahasiswa dan seluruh komponen civitas akademika. Namun dari sini kita harus menyadari bahwa, lembaga dakwah kampus bukanlah berisi orang-orang yang sempurna. Tidak juga dipenuhi oleh sekumpulan malaikat yang bersifat tanpa cacat sama sekali.

Lembaga dakwah kampus hanya sekumpulan (jamaah) manusia yang memiliki sedikit keinginan untuk memperaiki diri. Namun mereka dituntut untuk menjadi barometer perbaikan lingkungan sekitar dengan sedikit modal kesholehan yang mereka miliki. Barangkali orang di luar sana, yang tidak mengikatkan diri kepada lembaga dakwah lebih dekat kepada Allah, lebih fasih memahami Al Quran, lebih terjaga dari kemaksiatan dan benar memaknai kata dakwah. Sedangkan tidak sedikit pejuang dakwah yang terlibat di dalam lembaga dakwah yang belum memiliki kefahaman, belum berislam secara kaffah, kerdil dalam tekad, belum berakhlak Islami, bahkan hatinya mungkin masih dikotori berbagai macam penyakit yang berujung pada gerlimangnya dosa. 

                Kondisi ini wajar, karena sekali lagi kita adalah jamaah manusia, bukan malaikat dan Rasul yang maksum. Artinya, lembaga dakwah bisa dimasuki oleh orang-orang yang biasa saja dalam segi kefahaman, hanya saja hati mereka terdorong untuk menjadi lebih baik. Mereka mencoba sedikit mencicipi cita rasa dakwah meskipun belum begitu faham bahkan untuk memiliki komitmen terhadap dakwah sekalipun. 

                 Sehingga di sini sebuah esensi perbaikan itu bermula. Bukan lagi berbicara parameter orang lain menjadi baik menjadi sebuah indikasi kemenangan dakwah. Tapi kita menelusuri makna lebih jauh, dakwah kampus mengajarkan bahwa kemenangan hakiki berbicara terkait perbaikan diri dan umat. Tidak ada dikotomi makna, atau penyempitan kata dakwah di sini. Karena bahwasannya, jika memang kita ingin mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Maka pastikan diri kita menjadi baik seiring upaya kita melakukan perbaikan untuk orang lain. 

                Dengan melalui proses ini, pejuang dakwah yang pada mulanya mungkin hanya buih di lautan. Kini menjadi mutiara yang memiliki cahaya untuk menjadikannya indah dan temaram menerangi kondisi umat. Ia adalah sebuah proses di mana sekumpulan cahaya itu saling berpendar satu sama lain, saling menguatkan dan saling memperindah satu sama lain. Inilah dakwah kampus, sebuah titik tolak perbaikan umat fase kehidupan sekarang di mana kemaksiatan semakin menggurita, bahkan batasan hitam putih sudah mulai samar terbaca. Semoga Allah Menguatkan sampai akhirat, Sahabatku...             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar