Sabtu, 05 Oktober 2013

Keliru


Sahabat yang disayang Allah, sebuah perbedaaan adalah fitrah. Sedangkan keseimbangan dalam hidup adalah sunatullah. Allah Subhanahu wata’ala  sejak awal Merancang kehidupan, diisi oleh para penghuni yang majemuk dan plural. Dia Memberikan gambaran indah tentang fenomena kemajemukan ini: Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku  supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. (QS Al Hujurat: 13).
Namun di balik fitrah perbedaan ini, tentu bersemayam persepsi kemanusiaan kita yang terbatas dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu. Persepsi yang boleh jadi menjadikan jurang perbedaan semakin besar. Karena sebagian dari kita terjebak dalam fenomena kekeliruan. Memberikan penilaian yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Atau persepsi yang kita yakini berupa kebaikan sehingga membawa kita berupaya untuk memaparkannya agar layak untuk membuat orang lain mengangguk setuju.
Disadari atau tidak, kekeliruan merupakan subyektivitas penilaian yang terkadang dapat membawa pada sebuah bencana. Kita banyak belajar tentang ekspresi kekeliruan Iblis dari jenak peristiwa yang berasal dari keangkuhannya ketika diperintahkan Allah untuk sujud kepada Adam. Iblis memiliki persepsi bahwa ia lebih mulia dibandingkan Adam. Alasannya, Ia diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Padahal kita semua fahami pada kenyataannya sekarang, harga tanah lebih mahal dibandingkan harga api. Lantas apa yang membuatnya merasa lebih mulia jika tanah sebenarnya lebih berharga dibadingkan api? Inilah kekuatan persepsi yang mendorong Iblis menjadi angkuh dan sombong, hingga kemudian mendapatkan laknal Allah Azza wa Jalla.
Fenomena kekeliruan pun pernah tergambarkan pada diri sahabat ketika masa Rasulullah Salallahu alayhi wassalam. Saat itu Usamah, seorang pemuda yang diminta menjadi panglima memimpin peperangan, berhasil menjebak seorang musuh bebuyutan di sudut cekung bebatuan. Merasa terjepit seorang diri, tentara musuh itu melakukan segala cara untuk dapat menyelamatkan hidupnya. Tak ada pilihan lain, ia memutuskan untuk bersyahadat. Kemudian seketika dia bersyahadat secara sempurna: Asyhadu an laillaha illalah wa asyhadu anna muhammadan rasulullah. Namun Usamah tak bergeming, ia tetap membunuh tentara itu. Kemudian salah seorang sahabat melaporkan hal tersebut kepada nabi, lalu beliau memanggil Usamah dalam keadaan marah. Nabi menanyai Usamah kenapa membunuh orang yang sudah bersyahadat. Usama memberi alasan, orang itu bersyahadat hanya cari selamat karena terdesak, bukan didorong kesadaran. Akhirnya Nabi menyatakan: Nahnu nahkumu bi al-dhawir wallahuyatawallas sarair (kita hanya menghukum apa yang tampak dan hanya Allah yang menentukan apa yang ada di dalam bathin seseorang). Akhirnya Usamah bertobat kepada Allah dan menyesali perbuatannya dihadapan Rasulullah.
Dari kedua fenomena kekeliruan ini, terdapat persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah kekuatan persepsi telah membuat seseorang berani melakukan tindakan yang belum tentu berujung pada kebaikan untuk dirinya. Lihatlah Iblis yang berani menilai Adam dan bertindak untuk menentang Allah. Sedangkan Usamah, dengan persepsi sempit telah mendorong dirinya untuk bertindak membunuh seseorang yang telah bersyahadat. Keduanya mendapat murka. Namun perbedaannya, Usamah setelah menyadari kekeliruannya, ia langsung bertobat kepada Allah, sedangkan Iblis semangkin angkuh dengan kesombongannya.

Entah seberapa sering kita melakukan kekeliruan. Boleh jadi tanpa disadari, kita telah membuat jurang perbedaan itu terlampau besar. Atau mungkin tanpa disadari, sifat Iblis yang sedikit banyak telah mengendap di dalam diri kita. Sehingga menyebabkan lekatnya ukhuwah hanya menempel di ujung lisan. Selebihnya adalah kehampaan rasa akibat ekspresi ukhuwah formal tanpa mengendap pada rongga iman sama sekali. Wajar jika kita lebih senang mengatakan ‘aku benar dan kau salah’, ‘aku lebih baik dan kau lebih buruk’, ‘zamanku lebih baik dari zamanmu’ dan berbagai macam ekspresi lainnya yang tanpa terasa telah mengeraskan hati kecil kita. Sungguh gambaran itu begitu dekat dan akrab. Sadarkah kita mungkin Allah menjadikannya perumpamaan akan ukhuwah kita yang sedang bermasalah? Jika kita tersadar, selanjutnya periksalah iman kita. Boleh jadi, kelalaian kita terhadapnya telah membuat iman kita meredup. Kemudian dengannya kebenaran tidak lagi terbaca...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar